Rupiah yang tidak mungkin
Rupiah yang tidak mungkin
Abdul Ghofar
Tugas untuk menjual bolpoin di mulai sekitar pukul 17.30 WIB setelah acara outbond outdoor selesai di laksanakan dan batas kegiatan penjualan berakhir pada pukul 19.30 WIB. Setelah para mahasiswa dibubarkan, saya dan kelompok berembug sebentar untuk mengatur strategi bagaimana caranya menjual bolpoin dengan hasil yang maksimal hanya dalam waktu sekitar 1,5 jam. Akhirnya disepakati kami akan mulai menjual bolpoin setelah menunaikan sholat maghrib dan kami akan di bagi menjadi menjadi 4 kelompok dengan harapan bolpoin yang akan terjual lebih banyak.
Setelah selesai menunaikan sholat maghrib masing-masing kelompok mulai kegiatan penjualan bolpoin. 1 kelompok menawarkan di sekitar mesjid UT dan 3 kelompok lain termasuk saya bergerak dengan berjalan kaki menuju gaplek.
a. Apotek
Setelah berjalan beberapa saat jalan kaki, terlihat ada sebuah apotek yang berada di kiri jalan cabe raya. Saya mencoba untuk masuk dan menawarkan kepada 2 pegawai yang berada disana saat itu. Setelah beberapa saat saya berkenalan dan menjelaskan maksud dan tujuan menawarkan bolpoin kemudian salah satu pegawai bertanya : “ Surat pengantarnya mana mas?”. Kemudian saya mencoba meyakinkan untuk kedua kalinya kepada pegawai tersebut agar mau membeli bolpoin yang saya tawarkan. Akan tetapi pegawai tersebut tetap tidak membeli bolpoin tersebut.
Saat datang ditempat lesehan, saya melihat ada 2 bapak-bapak yang berada didalam mobil. Kebetulan saat itu gelap dan saya pikir kedua bapak-bapak tersebut adalah orang biasa yang sedang membeli makanan ditempat lesehan tersebut. Ternyata kedua orang tersebut adalah bapak Ams anak dari bapak Stanley beserta asistennya. Saat itulah kami tertawa karena tak menyangka bahwa bapak-bapak yang saya tawari adalah bapak Ams dan asistennya. Bapak Ams bertanya : “ Kok jauh amat nyampe sini jualannya ? ”. Saya jawab : ” Iya pak, namanya aja usaha, kudu semangat !!!”.
Akhirnya saya mencari-cari para pembeli yang tidak sedang menikmati makanan di tempat lesehan dan saya menemukan ada mas-mas dan mba-mba. Saya mencoba tawarkan namun mereka tidak membeli.
Beberapa saat meneruskan berjalan kaki menuju gaplek dan saya sampai di ruko-ruko, ada seorang bapak-bapak keluar dari sebuat toko dan melihat dari tampilannya beliau adalah seorang dosen atau guru. Dan yang terpikir di benak saya sebelum mencoba menawarkan adalah bapak tersebut ramah karena terlihat dari tampilannya yang rapi. Akan tetapi sebelum saya mencoba menawarkan beliau sudah melambaikan tangan sebagai tanda bahwa beliau tidak ingin untuk ditawari.
Saya melihat ada seorang bapak dan anaknya yang sedang menyantap makanan. Saat itu pula langsung terbesit dalam pikiran saya untuk menawarkan bolpoin kepada bapak tersebut dengan harapan anaknya akan menyukai bolpoin yang saya tawarkan. Akan tetapi begitu saya tawarkan bapak tersebut beliau langsung berkata : “ Lain kali aja mas ”
Akhirnya setelah sekitar 1,5 jam berjalan kaki menawarkan bolpoin ada yang membeli yaitu teman saya sendiri membeli 1 bolpoin dengan harga Rp. 5.000.00,-
Setelah saya menawarkan bolpoin dengan berjalan kaki dari UT ke gaplek, kemudian saya mencoba menawarkan bolpoin menggunakan media SMS kepada saudara-saudara. Setelah beberapa saat menunggu, kemudian ada SMS masuk dari saudara perempuan saya dan beliau berkata akan membeli 1 bolpoin yang ditawarkan dengan harga Rp. 50.000.00,-.
C. Kesimpulan :
a. Apapun hasilnya semua itu harus saya syukuri walau hanya terjual 2 bolpoin dan yang terpenting adalah saya sudah berusaha semampu saya.
b. Kegagalan bernegosiasi adalah sesuatu hal yang wajar dan itu adalah salah satu dari proses.
c. Untuk mencapai suatu keberhasilan yang manis butuh proses yang panjang dan itu kadang
menyakitkan.
d. Selalu berusaha dan jangan pernah sekalipun untuk menyerah untuk mencoba.









0 komentar: